Kematian datang kapan saja tanpa di undang,itulah yang terjadi pada
tetangga desa Mas Jarwo.
Perempuan paruh baya ini terkenal dengan julukan Nyai Kembang,pastinya
kalian kalian pada menyangka dia seorang wanita yang rupawan hingga
dapat julukan itu.Tapi salah besar lho!."dia dapat julukan itu karena
bisnis melipat gandakan uang,jadi uangnya kembang berkembang.Uang
boleh berkembang tapi umur nyai makin tua hingga napasnya kembang
kempis karena penyakit asma.
Dan hari ini Nyai Kembang menghadap sang pencipta secara mendadak
karena penyakit asmanya kambuh saat menagih hutang.
,"sett..!."mengerem mendadak depan rumah Nyai Kembang yang bernama
asli Bu Suryati,kembali ke Mas Jarwo yang mengerem mendadak,karena di
depannya ada Niswa yang mau melayat,bukannya marah tapi malah senyum
malu malu kucing kalau ada orang dan bakal jadi kucing beneran kalau
tak ada orang.
Mas Jarwo jadi salah tingkah,dia cuma balas senyum sambil membelokkan
montornya ke halaman rumah.
Ruang tamu ini sudah penuh pelayat,kursi kamar tamu yang mewah di
singkirkan ke pinggir ruangan.
Mas Jarwo duduk di samping Mas Bimo,anak pertama Bu Suryati ini yang
berprofesi sebagai dosen menghela napas panjang,batinnya sih seneng
seneng susah.Senengnya ibunya tidak akan mempermalukan keluarganya
lagi dengan bisnisnya yang jadi gunjingan banyak orang,sebenarnya dia
dan adik adiknya selalu menasehati agar ibunya menghentikan bisnis
menyekolahkan uang biar pinter ini,toh semua anaknya sudah berumah
tangga semua dan mampu hidup mandiri tapi hanya di anggap almarhumah
angin lalu.Susahnya,bagaimanapun juga ibunya yang telah
membesarkannya.
Mas Jarwo memandang mayat di depannya dengan muka bete,maklum pulang
sekolah mau tidur nyenyak nggak bisa padahal tadi malam kena penyakit
sulit tidur tapi bukan karena di gigit nyamuk tapi tak ada yang di
gigitnya,jadinya gigit jari deh!."
sedetik kemudian,matanya jadi melotot tajam..hilang deh.Ngantuknya
karena kembang hatinya melayat juga..oh ani,..ani..ani,aku untukmu!."
Pak Sahrul yang ada di sampingnya langsung nyengir tahu ada kopikonya Mas Jarwo.
Mas Jarwo terus memandang Ani,membuat Ani jengah..maklum kondisi orang
susah masih aja ganjen!."tapi Pak Kepsek yang sudah melayang
layang,enggak peduli..Dia membayangkan berduaan sama Ani di taman
penuh bunga,duduk di bangku taman yang indah.
,"bolehkan mas jarwo minta cium dikiit aja!."
,"mm..kasih nggak?."
,"kasih deh!."seru Mas Jarwo meremas remas tangan Ani.
Tapi tangannya kok terasa dingin banget,mana keriput kayak tangan
nenek nenek,tapi genggamannya nggak kalah sama gadis muda.
Tiba tiba,"ah..ah!."teriak Mas Jarwo waktu tahu tangannya di genggam
mayat depannya..membuat heboh orang yang ada di ruangan itu
,"ada apa tho mas?."tanya Mas Bimo panik
,"ibunya hidup lagi,tanganku di genggam!."seru Mas Jarwo ketakutan
sedang Pak Sahrul tersenyum,lalu berkata
,"aduh..pak kepsek,lihat yang bener dong.Bukannya tangan bu suryati
yang menggegam tangan bapak tapi kebalikannya,"
Mas Jarwo nyengir kuda,nahan malu tahu.Sedang orang orang tertawa.
,"mulanya pak kepsek kalau ada kematian itu turut bela sungkawa
bukannya asyik memandang dik ani yang ayu,"sindir Pak Sahrul
lagi,membuat gelak tawa orang orang semakin membahana.
Bikin Pak Modin mengetuk lantai tanda kalau semua harus pada diam
,"hormati almarhumah!."teriaknya.
Semua jadi pada diam.
Kini giliran Mas Bimo berbicara
,"pak..buk,saya mewakili keluarga,meminta maaf atas kesalahan
almarhumah,dan jika ada yang punya hutang pada ibu,kami sudah
ikhlaskan,anggap saja lunas."
hu..hu!."di sambut teriakan senang para pelayat yang punya
hutang,sedang yang tidak punya manyun..,"kalau ngerti,aku banyakin
utang deh!."
suasana jadi chaos,untung pak Modin bisa berteriak keras
,"diaaaam!."

Tidak ada komentar:
Posting Komentar