Efektifkah Pegawai dan Honorer Dulang Suara bag 1
Efektifkah Penggunaan Pegawai dan Honorer dalam mendulang suara parpol
untuk masa kini seperti jaman Orba?."
jawabannya tidak karena apa?."
Sekarang tidak ada kebijakan pemerintah yang mewajibkan PNS memilih parpol
tertentu dan tidak ada parpol pemilik mayoritas suara seperti Golkar di era
Orba.Dan konsentrasi kekuatan parpol berbeda beda walau tetap Si Merah Dan
Si Kuning ,kemarin si biru lumayan juga tapi kini tidak lagi tetap kedua
warna di atas ada di seluruh pelosok negeri dan ini di perparah dengan
sistem Pilkada yang membuat penguasa satu daerah tidak sama dengan daerah
lain tidak seperti jaman Orba.
Gubenur maupun Bupati seluruh Indonesia adalah kader partai kuning dan atas
tunjukkan orang nomer 1 di negeri Ini kala itu.Jadi kebijakan bisa di
seragamkan dari pusat sampai pelosok.
Tambah lagi karena era keterbukaan informasi kebrobokan para PNS dan
birokrasi terpampang nyata dan prosentase mereka terhadap jumlah penduduk
tidak signifikan.
Jadi pemberitaan negatif terhadap mereka cepat di respon kami yang dari
kalangan umum.
Apalagi jika negara terlalu mengistimewakan mereka padahal pelayanannya
pada masyarakat masih memble aja dan menganaktirikan kami kaum petani.
Kami wong cilik dan tidak berpendidikan tidak akan teriak teriak apalagi
main demo demoan,paling cuma ngelus dada.
Tapi kami akan menghukum pemimpin dengan tidak memilih mereka dalam hajatan
demokrasi.
Begitu pula yang terjadi pada bapak Soeharto yang mendapat gelar bapak
Pembangunan,beliau sangat memperhatikan para petani,beliau menetapkan
kebijakan kebijakan yang strategis untuk petani.
Pupuk murah dan pembangunan infrastruktur seperti jalan,irigasi dan
bendungan untuk kami petani.Walau penulis kala itu putri PNS tapi tahu
senangnya para petani,nanam pupuk murah,air nggak kurang dan kepastian jual
pasca panen karena lancarnya menjual hasil bumi karena jalan jalan yang
terus di bangun.
membuat negeri ini boleh dikatakan (waktu itu) gemah ripah loh jinawi.
Pangan tersedia secara melimpah dan tersebar secara merata ke seluruh
pelosok Tanah Air. Tidak ada orang yang kesulitan makan karena harga beras
yang mahal dan langka, tidak ada kesulitan mencari kedelai, tepung terigu,
minyak goreng, maupun kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pokok lainnya.Itu
dampak langsung keberhasilan program pembangunan pertanian dan revolusi
ketahanan pangan. Kesuksesan ini mengantarkan Pak Harto diundang berpidato
di depan Konferensi ke-23 FAO(Food and Agriculture Organization /Organisasi
Pangan dan Pertanian Dunia),di Roma, Italia, 14 November 1985. FAO
memberikan penghargaan kepada Pak Harto (Indonesia), karena
keberhasilannya dalam mencapai swa sembada pangan / beras.Bahkan yang perlu
dicatat, Indonesia pernah dijadikan contoh sukses (role model) bagi negara
sedang berkembang lainnya di Dunia Ketiga, untuk mengentaskan masyarakat
dari kelaparan dan kekurangan pangan. ( Dr Purbayu BudiSantosa, dosen IESP
FE Undip.)Tentu saja semua itu tak terlepas dari pemahaman yang mendetail
atas masalah-masalah pertanian oleh Soeharto, Presiden RI , yang masa
kecilnya memang tumbuh di desa,dikalangan keluarga petani.
Pak Harto adalah seorang Presiden RI yang sangat menguasai persoalan
Pertanian melebihi siapapun, sehingga berujung dengan terwujudnya
swasembada pangan.
Kehadiran Pak Harto dalam acara Klompencapir (Kelompok Pendengar, Pembaca,
danPemirsa) yang disiarkan oleh TVRI menjadi salah satu tontonan saya di
masa kecil. Saya terkesan dengan kesabaran dan ketenangan beliau dalam
mendengarkan dan menjawab setiap pertanyaan para petani yang hadir dalam
acara tersebut.Pak Harto yang lahir dan dibesarkan dalam suasana pertanian
di desa tentunya memahami benar nasib para petani.
Acara ini di buka pemandangan desa, sawah dan gunung di TV kelihatannya
bagus banget.Oooh… Pak Harto (Presiden Suharto) yang sedang blusukan dari
desa ke desa.Acara yang konon waktu itu sangat ditunggu-tunggu oleh petani
se Indonesia.. Apa sih istimewanya acara ini ?Aku jadi penasaran ingin
menonton.
Di layar TV terlihat..: Di balai desa Pak Harto ditemani para staf ,
ajudan pengawal dan menteri terkait, duduk berderet menghadap ke arah
penduduk desa yang duduk tertib pada kursi yang tersedia. Dan dimulailah
dialog , tanya jawab Pak Harto dengan KLOMPENCAPIR (Kelompok Pendengar,
Pembaca, Pemirsa).Wow…Ternyata Presiden sangat menguasai masalah-masalah
pedesaan, pertanian dan peternakan dengan sangat detail. Beliau bisa
bicara panjang lebar Soal bibit, tanaman, hama wereng, insektisida, pupuk
, kotoran sapi jadi biogas , inseminasi buatan dan lain-lain dengan sangat
lancar ,spontan dan gamblang.Pemahamannya soal pertanian jauh lebih baik
dari para petani dan para staf / menteri yang terkait sungguh
menakjubkan..!!Tak heran kalau Indonesia waktu itu bisa swa sembada pangan
/ beras.
Beliau juga membuat kaum petani happy happy karena setiap tahun pasti
menyelenggarakan pameran desa yang memamerkan hasil hasil pertanian dari
desa.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar