Sabtu, 16 Januari 2016

Efektifkah Pegawai dan Honorer Dulang Suara bag 2

Efektifkah Pegawai dan Honorer Dulang Suara bag 2

Ada yang unik dan mendapat piala seperti singkong terbesar,lele terbesar
waktu itu aku senang banget dan berhayal suatu saat ingin jadi petani
dengan luas tanah berhektar hektar dengan aneka tanaman ya tapi sekarang
pupuk mahal menjadi petani tanaman semusim nggak seenak dulu jadi pada
banting stir ke perkebunan seperti sawit dan karet.Itupun kalau jalan udah
rusak karena hujan membuat harga komoditas turun kepotong biaya
transportasi yang gedhe.
Program transmigrasinya pak Harto juga berhasil lo..dan beliau benar benar
bertanggung jawab,di kasih lahan dua hektar di buatin jalan jalan juga
sekolah pendukung walau hanya SD dulu minimal,di kasih pupuk dan selama dua
tahun dapat makan gratis juga minyak tanah.Dukungan yang membuat para
transmigrasi bisa survive di negeri orang meninggalkan sanak saudara untuk
kehidupan lebih baik.Karena itu jangan heran di daerah transmigrasi para
petani setiap 17 Agustus masih melaksanakan upacara bendera katanya ini
didikan beliau dan kadang kadang mereka berseloroh,dapat hidup layak karena
warisan mbah Harto(mbah itu bahasa jawa artinya kakek).
"Hanya Pak Harto yang Sayang Kami"
Ketika menemani sejumlah peneliti Amerika Serikat di Desa Muara Dadahup
Kecamatan Kapuas Murung, Kabupaten Kapuas, aktivis LSM Achmad Siddik
memiliki kisah yang menarik.Setelah menyampaikan beberapa pertanyaan dalam
sebuah wawancara yang berlangsung santai, peneliti Amerika itu kemudian
bertanya kepada seorang petani, "Apakah ada bantuan dari Pemerintah kepada
Bapak, misalnya benih atau pupuk?"Si petani itu dengan lugu menjawab,
"Zaman Pak Harto dulu sering. Sekarang ramai janjinya tapi sedikit
ngasihnya. Kalau dulu, zaman Pak Harto kami banyak dapat bantuan. Hanya Pak
Harto yang sayang sama kami."Petani merindukan masa dulu, masa dimana
petani menjadi subyek dan bisa menentukan nasibnya sendiri. Petani menjadi
tulang punggung kemandirian bangsa. Dulu petani ikut andil dalam mengangkat
harkat martabat bangsa. Melalui tangan petani, Indonesia dengan bangga
menjadi negara yang mandiri pangan karena berhasil mencapai swasembada
pangan. Indonesia juga membantu negara-negara tetangga memenuhi kebutuhan
pangannya.Apa yang terjadi saat ini? Mereka tak lagi menjadi subyek dan
seringkali menjadi obyek program yang tak mengakar pada rakyat. Petani
sudah bersusah menanam padi untuk menghidupi banyak orang, pemerintah lebih
suka mengimpor dan menyuruh rakyat makan dari keringat orang lain. Petani
kerap menjadi obyek penyaluran bantuan yang sebagian besar hanya dinikmati
pelaksana proyek. Petani didatangi hanya saatpemimpin ingin dukungan dalam
pemilu.Pantas saja mereka merindukan masa-masa mereka mendapat tempat
terhormat di antara warga bangsa. Saat mereka diliput di televsisi dengan
keterampilan dan wawasan mereka. Ketika petani menikmati masa panen dengan
suka cita. Saat panen adalah saat hidup bisa berubah. Masa-masa itu mereka
nikmati saat negera ini dipimpin oleh Presiden kedua Indonesia. Siapa lagi
bila bukan Almarhum Presiden Soeharto.

Demikian kisah Achmad Siddik dalam blognya.
Sumber: Harian Pelita, 15 Oktober 2012

Masa Pak Harto juga tidak pernah diwarnai reshuffle kabinet di tengah masa
jabatan para menteri.
kata orang pak Harto biasanya menunjuk orang kepercayaannya – terutama jika
berkompetensi tinggi dibidangnya - untuk menjadi menteri lebih dari satu
kali, bahkan hingga berulang kali. Barisan menteri yang populer saat Orba
antara lain Harmoko (Menteri Penerangan), Ali Alatas (Menteri Luar Negeri),
B.J. Habibie (Menristek), Fuad Hasan (Mendikbud), Moerdiono (Mensesneg),
dan Soedomo (Menkopolkam). Tentu saja hal itu sangat memudahkan para murid
sekolah, termasuk saya, untuk menghafal nama para menteri yang terkadang
menjadi materi ujian pelajaran IPS.
Saya belum terlalu memahami benar alasan para mahasiswa yang berunjuk rasa
terhadap pemerintahan Pak Harto selama krisis moneter pada tahun1997 hingga
1998. Saya baru duduk di kelas tiga SMP saat Pak Harto mengundurkan diri
dari kursi presiden pada 21 Mei 1998. Kudeta militer dan konspirasi politik
belum terjangkau oleh benak saya waktu itu.Pemahaman lugu saya sebagai
murid SMP saat reformasi terjadi adalah kondisi sosial-politik di Indonesia
menjadi tak terkendali karena faktor eksternal yaitu krisis moneter.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar