Kamis, 17 Mei 2018

Bab 9 Cinta Gadis Indigo

Bab 9 Cinta Gadis Indigo ,"oh ya,soal kematian prita wulandari,orang yang paling tahu adalah pak harun,kepala sekolah yang berdinas kala itu,ibu pernah berjumpa dengan beliau yang menyatakan masih tinggal di rumahnya yang lama,biar nanti ibu catatkan alamatnya," ,"baiklah,bu.terima kasih atas informasi yang ibu berikan..,"ucap Lia di ikuti anggukan Ara sambil menerima catatan alamat Pak Harun ,"semoga kau berhasil,nak,"ucap Bu Miranti dengan terharunya menepuk nepuk punggung kedua anak didiknya bergantian saat di antarkannya sampai ke teras rumahnya. ,"yah,mudah mudahan saja,Bu,"ucap keduanya dengan kepala terangguk. Minggu pagi yang cerah,akhirnya Ara tiba di rumah mantan Kepala Sekolahnya yang terletak jauh di pinggir kota,tanpa di temani Lia dan Ana,mereka lagi sibuk dengan keluarganya. Halaman rumahnya di tumbuhi bunga bunga beraneka warna,begitu indah dan semarak.Dari dua orang cewek muda yang di lihatnya sedang merangkai karangan bunga,Ara dapat memperkirakan jenis usaha apa yang di tekuni kepala sekolahnya pasca pensiun. ,"selamat pagi,benarkah ini rumahnya pak harun?."tanyanya pada cewek belia yang menyambut kedatangannya.cewek itu menganggukan kepalanya dan mempersilahkannya untuk masuk ruang tamu sementara cewek itu memanggilkan ayahnya. Seorang lelaki setengah baya muncul dan sorot mata amat tajam menyergap tubuh tamunya. ,"selamat pagi,pak harun.perkenalkan saya ara,"ucap Ara sambil mengulurkan tangannya. ,"ya,ada keperluan apa?."tanya Pak Harun yang dengan kening mengernyit menyambut uluran tangan tamunya. ,"saya adalah siswi SMU Tunas Persada.Maksud saya menemui bapak adalah untuk meminta bantuan bapak," ,"bantuan saya?.bantuan dalam hal apa?."tanya Harun curiga. ,"sebelumnya saya minta maaf karena permintaan bantuan saya akan mengusik hati bapak,saya mohon bapak mendengarkan persoalan saya terlebih dahulu,"pinta Ara lantas perlahan lahan Ara menjelaskan segala sesuatunya,terakhir ia menyampaikan petunjuk Bu Miranti yang menyarankannya untuk menemui mantan Kepala Sekolahnya.Tidak lupa Ara menjelaskan alasannya untuk menyelidiki keberadaan hantu kamar kecil yang di perkirakan terkait dengan kematian Prita Wulandari. mendengar penjelasan Ara,Harun hanya menunjukkan reaksinya berupa helaan napasnya yang berulang kali. ,"pak harun?."panggil Ara setelah lama di diamkan lelaki itu. ,"bertahun tahun lamanya saya ingin melupakan kejadian itu,tapi saya tetap tidak bisa melupakan prita wulandari yang merupakan anak didik kebanggaan kami,karena cinta harus terjadi peristiwa yang memilukan sekaligus memalukan." ,"maaf..bapak,bisakah di jelaskan lebih detail?."tukas Ara agak rikuh. ,"ya,ya,akan ku jelaskan semuanya padamu,"ucapnya dengan suara bergetar. Harun menuturkan,pada kala itu Prita,salah satu murid teladan merebut pacar Andini,anak pindahan dari Ternate Maluku yang bernama Arman. Andini marah besar,bahkan menyerang Prita sampai terluka dan mereka terlibat beberapa bulan perang dingin sampai Andini memutuskan mengalah dengan kembali pindah ke Ternate. Dua bulan setelah Andini memutuskan pindah ke Ternate,terdengar kabar kalau Andini menjadi salah satu korban kecelakaan Kapal Laut di laut Maluku,seminggu setelahnya Prita di temukan bunuh diri menabrakan tubuhnya ke pohon besar depan sekolah dan satu minggu kemudian,Arman kecelakaan sampai meninggal saat mengendarai motor. Dari rumor yang beredar,Prita di hantui arwah Andini hingga memutuskan bunuh diri atau karena di hinggapi rasa bersalah pada Andini." terima kasih pak,saya permisi dulu," ,"ya..bapak doakan agar prita tidak menghantuimu,mungkin baiknya di adakan tahlilan di sekolah," ,"ya pak,usul bapak akan saya sampaikan saya pak ridwan agar segera di laksanakan,". Ara terus melihat ke jalan raya,tidak tampak satu angdes pun yang lewat,apa ada jalan rusak ya?."tanyanya dalam hati..dia terlihat resah karena jam sudah menunjukkan pukul 06.30.Maghrib telah lewat..Ara memutuskan kembali ke rumah Pak Harun tapi sebelumnya dia ingin menelepon Lia agar menjemputnya.Ara menyeberangi jalan menuju boks telepon di seberang jalan.Tangannya tergesa gesa memasukkan koin ke lubang kecil.Jarinya menekan nomor nomor. ,"hallo..Lia,ini ara!." ,"ara ada apa?."kau di mana?." napas Ara tersengal sengal.Dadanya penuh udara.Dia merasa ada sesosok tubuh di belakangnya. ,"ara kamu kenapa?."suara Lia di ujung telepon terdengar cemas. ,"lia..lia,"suara telepon terputus.Koin Ara sudah habis,tubuh Ara melorot.memeluk lutut.gagang telepon di biarkan menggantung,ketakutan menyergap dirinya karena tubuhnya di kelilingi kabut. Tiba tiba kegelapan datang,Ara bingung.Dari ujung pandangan secercah cahaya merambat.makin lama makin cepat,hendak menabrak tubuhAra. spontan Ara menutup wajah dengan kedua tangannya. Napas Ara memburu.Pelan pelan tangannya membuka.Dia mendapati dirinya telah berada di kelas.Ara mengedarkan pandangan dengan masih kebingungan,seorang cewek cantik sedang duduk di bangku,menulis sesuatu,Ara mengenal buku itu dan cewek itu siapa,oh ya..Ara mengenalinya,dia yang terlihat dalam mimpi mimpi Ara.Dialah Prita Wulandari. Wajahnya terlihat sedih. Ara bisa melihat apa yang di tulisnya ,"andini maafin aku,tak ada setitikpun maksud hatiku untuk menyakitimu..tetapi cinta telah membutakan hatiku,sekali lagi aku minta maaf..semoga kau tenang di alam sana," Tiba tiba dari arah pintu sosok cewek yang lain berdiri dengan tatapan penuh dendam.Pelan pelan dia mendekati Prita dengan langkah tanpa suara,Prita tidak menyadari kehadirannya. Tiba tiba tangan cewek itu terangkat ke atas,sebuah gunting dengan ujung tajam berkilat.Ara tercekat,berusaha berteriak tapi mulutnya tak bergerak.Kakinya ingin melangkah,tetapi lumpuh.Dengan kekuatan dendam cewek itu ingin menusuk gunting itu di leher Prita tapi kali ini Prita menyadarinya,dia segera menendang kaki cewek penyerang itu sampai jatuh dan berlari menuju pintu,namun saat berlari dan melihat wajah cewek itu,Prita tampak tak percaya ,"andini..kau sudah mati!."teriaknya berlari ketakutan melewati koridor,menyeberangi lapangan, dengan Andini mengejarnya dari belakang,menerjang hujan deras,kilatan petir membias wajahnya yang pucat seperti terang lampu neon yang hampir padam padam.. terang.. padam kembali. Riuh ranting yang di terpa angin saling bertabrakan,keributan itu semakin memacu langkah kakinya,dia tak peduli hujan deras membasahi kulitnya,Andini di belakangnya memaksanya terus bergerak dan berlari. Dan napasnya semakin tersengal saat dia kesulitan membuka pintu pagar sekolah ini,kepanikan membuatnya tak bisa berpikir jernih.Saat Ia berhasil membuka pintu pagar sekolah,cepat cepat dia berlari.Tiba tiba kakinya terasa beku tidak bisa di gerakkan karena tersangkut akar pohon besar ini dalam hawa dingin yang menyerang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar