Kamis, 17 Mei 2018
Bab 3 Cinta Gadis Indigo
Bab 3 Cinta Gadis Indigo
Malam telah datang bersamaan air hujan mengalir tanpa henti membasahi
gedung sekolah dengan arsitektur Belanda yang sudah sangat tua,berdiri
angkuh bersama pohon pohon raksasa yang tak kalah tua umurnya dengan
bangunan itu sendiri,Jendelanya besar besar seakan cukup mampu
menyedot udara atau angin badai ke dalam ruangan ruangannya.Pilar
pilar yang kekar menjadi lengan dan kaki yang cukup kuat sehingga
membuat gedung sekolah itu terkesan kokok dalam usianya yang uzur.
Sesosok tubuh berjalan cepat menuju jajaran kamar kecil.Di biarkan air
hujan membasahi rambut dan pakaiannya.
Matanya yang dingin menatap nanar sekitar kamar kecil,dia mencari
seseorang yang deminya,rela meninggalkan kedua sahabat karibnya di
halte bus,memuaskan rasa cemburu yang bergelayut di dadanya walau dia
tahu cowok itu bukan miliknya lagi.
,"dimana kalian?."gumamnya resah,sambil melangkah di koridor jajaran kamar kecil ini.
Airmata mengalir membasahi pipinya di campur bulir bulir air hujan.
,"seharusnya aku sudah tidak boleh cemburu lagi,tapi melupakanmu
adalah hal tersulit yang aku lakukan,"gumam Ara bersamaan hembusan
angin,lembut sekali membelai tubuhnya.Dia merasa ada sesuatu yang
menabrak tubuhnya,matanya memandang kakinya,terlihat genangan darah di
kakinya.
,"ah..ah!."teriaknya bersamaan kedua sahabatnya menghampirinya dari
kegelapan malam
,"akh..mana ada genangan darah,sepercik noda darah pun tidak terlihat!."seru Lia
,"tidak ada,ar,tidak ada darah atau apapun yang mengenangi kakimu?."
Ara tersentak,mengedip-ngedipkan matanya dengan cepatnya,lantas di
kuceknya matanya yang terarah sepenuhnya pada lantai yang di pijaknya.
,"ttappii,tadi itu aku melihatnya,An,Lia.Sumpah mati aku melihatnya!."
Kedua sahabatnya mencoba memeluk Ara karena gadis ini terus histeris.
,"gimana sekarang,lia?."
tanya Ana
,"kita melaporkan kejadian ini pada kang ujo,siapa tahu ada
penjelasannya,agar ara nggak terus histeris,"
,"kami ikut kamu lia,"putus Ana mengikuti Lia tanpa menanyakan apa apa
pada Ara,hanya menarik tangannya mencari penjaga sekolah mereka.
,"eh itu,Kang Ujo sedang mengunci kantor kepala sekolah!."seru Lia
menunjukkan orang yang mereka cari hingga keduanya bergegas
menemuinya.
,"kang ujo!."panggil Lia seketika
,"lho,ada apa lagi?."tanya si penjaga sekolah sedikit emosi.Karena di
ganggu siswa lagi.
,"teman saya melihat ada genangan darah pada lantai di depan kamar
kecil,"ucap Lia sambil mengisahkan
apa saja yang telah terjadi.
Ana yang tidak ikutan bicara dan hanya memperhatikan ekspresi wajah
Kang Ujo merasakan kalau penjaga sekolah mereka tidak begitu kaget
mendengar laporan mereka.
,"lha memang tadi siang ada yang berantem di sana,katanya sampai
terluka,dan saya belum sempat membersihkannya..,"
,"tapi genangan darah yang di lihat Ara itu menghilang dengan
misteriusnya,kang,"Lia menegaskan lagi ceritanya supaya Kang Ujo tidak
mengira masih ada darah di sana.
,"oh..jadi hanya sebentar saja si ara melihat genangan darah,mungkin
sudah terbawa air hujan,"jawab Kang Ujo pelan,mereka bertiga
mengangguk.Alasan Kang Ujo masuk akal karena berada di koridor jadi
bisa tersapu air hujan.
Ara memegang perutnya yang perih.Meringkuk dalam gelap,seharian
perutnya belum di isi.Hujan dan petir sudah tenang semenjak pukul
sepuluh malam.Yang tersisa hanyalah hawa dingin.Satu satunya terang
hanyalah cahaya lampu dari atas meja.
Ara mengganti posisi tubuhnya,pikirannya tertuju ke Arya
Karmapala.Airmatanya meleleh,Ara semakin terisak,
sesuatu meniupkan udara di belakang tengkuknya.
,"dingin!",
Ara memegang tengkuknya yang terasa sedingin es.
Gadis itu mengusap ngusap tengkuknya tetapi punggung tangannya di tiup
sesuatu.Buru buru dia melepaskan tangannya.Tubuhnya menggigil.Dia
sadar bahwa dia bukan satu satunya makhluk di ruangan
itu.
,"tenanglah!."suara lembut cowok menyapanya.
,"siapa di situ?."desisnya,tak ada jawaban,dia merasa begitu tolol
berkata seperti itu karena hanya dia yang ada di kamar pribadinya.
,"pergi!.pergi!.serunya,Ara berusaha berdiri,menggerakkan
kakinya,bergerak menuju stop kontak lampu
,"byaar!."
cahaya terang menyerbu pupil matanya bersamaan sesosok tubuh dalam
bentuk kabut melayang layang di dekat tempat tidurnya.
Ara ketakutan ketika sesosok tubuh mendekatinya,tubuhnya semakin
nampak ,"ya tuhan tolong aku!."
Pagi menggeliat,matahari menghangatkan hari setelah beberapa pagi
terlena di balik awan.
Ara memandang matahari dari kaca jendela.Pikirannya melayang ke
kejadian tadi malam,Siapa cowok itu?."yang pasti bukan manusia,tapi
tampan banget.
Ara menghela napas,bersamaan kedua teman karibnya datang
,"ra..kita berdua udah mutusin kalau ken sudah di likuidasi dari grup
flower four jadi nama grup kita AB flower terdiri dari ara,ana dan
lia,"cerocos Lia,Ara hanya mengangguk
,"kita harus berjanji agar jangan sampai saling berebut cowok
lagi,"tambah Lia,sementara Ana menaikkan sudut bibirnya,kayaknya bau
bau tidak setuju.
,"tapi kalau seganteng kotaro minami bagaimana ya?."tanya Ana
,"he..aku beritahu an,kalau di sini ada yang seganteng kotaro
minami,imposible.Paling tuh mirip gebetannya Si Ken!."seru Lia banter
amat bikin telinga Ana terasa budeg,sambil gelengin kepala,Ana melihat
Ken di sana dengan tampang super gondok
,"he..Jaga mulutmu lia!."teriak Ken
Lia mencibir,Ken tidak terima,dia mendatangi Lia.
,"aku tahu lia,kau menganggap aku salah karena merebut kak arya dari
tangan ara,tapi semua bukan hanya salahku tapi salah ara juga,dia
tidak bisa menjaga kekasihnya sendiri,"jelas Ken,melirik Ara.
Membuat hati gadis cantik ini meratap pilu.
,"oh..ye,nggak usah ngeles kale!."tapi dasar kamunya emang gatel terus
si arya juga gatel!."teriak Lia dengan intonasi meninggi,Ken melotot
tajam pada Lia.
Bensin sudah siap,tinggal korek api saja,tinggal jress terbakar.
Ara menggeleng kepala tanda tak setuju,bersamaan
bu Miranti datang,buru buru keduanya beringsut ke tempat duduk masing
masing dengan gerutuan.
Ara lega tidak terjadi apa apa.
,"buka buku halaman 5,kerjakan soal di papan tulis!,"seru bu Miranti
sambil menulis satu soal di papan tulis.
,"lia,silakan maju ke depan dan jawab soal itu.
Dengan muka nyengir,Lia maju sambil melirik Ken yang mencibir padanya.
Saat ingin menjawab,soal di papan tulis sudah terjawab tanpa Lia
menyentuhkan kapur tulisnya.
Ada kekuatan kasat mata yang mengukir jawaban di atas papan tulis.
Mata Lia melotot,dia ketakutan dan secepat kilat kembali ke bangkunya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar