Kamis, 17 Mei 2018
Bab 8 Cinta Gadis Indigo
Bab 8 Cinta Gadis Indigo
Seorang cewek memasuki toilet,dia memandang dirinya di cermin..dan
melalui pantulan cermin,dia melihat sesuatu keluar dari bak
mandi,sebongkah kepala keluar dari sana.wajahnya penuh darah dengan
mata hitam kelam,cewek itu menjerit..membuat temannya masuk ke kamar
mandi,saat tiba di dalam,cewek itu menjerit jerit sambil menunjuk ke
arah bak mandi.Roknya sudah basah.Dia benar benar ketakutan sampai
ngompol di celana.Sesuatu yang mengerikan telah di lihatnya.
Dua temannya berusaha menenangkannya dengan memegangi kedua tangannya
yang berontak.mereka saling berangkulan.
Terdengas suara cewek berteriak teriak dari dalam UKS.
AB FLOWER
tergopoh gopoh menuju UKS.
tepat di belakang Kang Ujo yang membawa segelas air.
,"pergi kamu!Pergi!."mata cewek itu mendelik.
,"tenang!.jangan berontak,"kata pak Ridwan
,"saya melihatnya!."benar benar melihatnya.Pergi!."
,"apa yang kau lihat?."tanya Pak Ridwan
,"matanya hitam,wajahnya..penuh darah!Pergi!aku tak mau melihatmu!."
Pak Ridwan mengambil gelas dari tangan Kang Ujo.
Pak Ridwan membisikkan sesuatu ke dalam gelas lalu dengan sekali
hentakan menyiramkan isi gelas itu ke wajah cewek itu.Dia
geragapan,napasnya mulai teratur,lalu jatuh tertidur.
Menyaksikan kejadian ini Lia membisiki sesuatu ke telinga Ara Dan Ana.
Dengan langkah terburu buru AB FLOWER bergegas menuju ke kelas.Cepat
cepat mengambil tempat duduk,dengan perlahan tapi pasti Lia mengambil
buku dari dalam tas,meletakkan buku itu di atas meja.Apapun isi buku
itu pasti sangat penting.Lia belum juga membuka buku itu,terus terang dia sangat takut.Namun,tekad agar menyibak misteri hantu toilet dan terlepas dari teror teror makhluk gaib sangat besar,mereka memandangi
buku lama itu,pelan pelan tangan Lia membukanya di ikuti pandangan mata Ara dan Ana.
Lembar pertama buku itu bertuliskan sebuah
nama,"Prita Wulandari,"
4 Mei 1982
jatuh cinta itu berjuta rasanya kata mbak Titik Puspa,begitu juga perasaanku pada Kak Arman..setiap ku melihat matanya seperti ada
magnet yang menarikku untuk memandang wajahnya yang tampan.
Ah..rasa itu benar benar,bunga cinta telah bersemi di hatiku,"
5 juni 1982
aku pikir cintaku bertepuk sebelah tangan,ternyata Kak Arman sering
memandangku penuh rasa membuat hatiku dag dig dug.
5 agustus 1982
hari ini kak Arman menemui aku di kelasku,dia menyatakan
mencintaiku..entah setan apa yang ada di hatiku,aku menerima
cintanya..ku lupakan keinginanku untuk mencintainya dalam
sepi,memujanya dalam cinta rahasia.
5 September 1982
mengapa aku hanya mencintainya dalam sepi,karena sebelumnya dia sudah
ada yang punya..aku melanggar janji setia pasangan lain dan aku
menikmatinya dalam backstreet,menusuk dia dari belakang..bagaimana
jika dia tahu..?."
Lia membalik lembar berikut,kosong..ada yang menyobek halaman buku harian ini.
,"teman teman,kita harus mencari tahu siapa prita,"ucap Ara di ikuti
anggukan kedua temannya.
Jam pelajaran Biologi di kelas satu kosong.Kepala sekolah yang biasa
menggantikan jam pelajaran kosong pun kebetulan belum datang hingga
siswa kelas Ara di pinta guru piket untuk belajar sendiri.
Tentu saja tidak ada yang sungguh sungguh belajar sendiri.Manalah
tahan mereka duduk di dalam kelas tanpa guru hingga beberapa di
antaranya keluar,ada yang ke kantin,ke perpustakaan,ke kamar kecil
atau ke lapangan basket.
Lia pergi ke ruang tata usaha untuk membayar spp yang sedianya akan di
bayarkan pada jam istirahat.Kebetulan ada jam kosong,ia jadi bisa ke
tata usaha tanpa harus menunggu jam istirahat sambil cari informasi
soal Prita Wulandari,pikirnya.
,"selamat siang,mbak ratna,"sapanya pada pegawai tata usaha yang di
kenal amat akrab dengan para pelajar.
,"selamat siang,nggak ada pelajaran?."
,"iya.Guru biologi absen,mbak.Saya mau bayar SPP nih,"katanya sambil
mengeluarkan uang dan kartu pembayaran SPP.
,"ya,"Ratna menerima uang dari Lia dan membubuhkan catatan di bukunya.
,"mbak..tahu dengar nggak murid sini sekitar tahun delapan dua yang
namanya prita wulandari?."
Ratna tertegun mendengar nama yang di sebutkan lia,"dari mana kamu
tahu nama itu?."dia balik bertanya dengan tatapan mata menyelidik.
,"tetangga aku yang pernah sekolah di sini sekitar tahun delapan dua."
dia menghela napas panjang.
,"dia murid yang di temukan mati dekat pohon depan sekolah dan punya
kisah cinta yang sensasional,"
,"maksudnya mbak?."
,"cinta segitiga..dan konon cerita semenjak kematiannya setiap
angkatan selalu di ributkan sama hantu kamar kecil sekolah,"
Lia mengangguk angguk
,"mbak..tahu soal cinta segitiganya?."
,"aku sih nggak tahu pasti,tapi coba tanya saja sama bu miranti karena
dia yang paling lama ngajar di sini,mungkin dia tahu."
sorenya,Lia bersama Ara menemui guru biologinya,seorang wanita separuh
baya yang penuh perhatian terhadap anak didiknya.Dan kedatangan Ara
dan Lia sudah tentu mengherankan sang guru yang mengenal tamunya
sebagai siswi siswi yang cukup cerdas.
,"ada kesulitan apa?."tanyanya di liputi tanda tanya.
,"tidak bu,saya tidak punya kesulitan apa apa.Saya datang hanya untuk
menanyakan prita wulandari,ibu khan sudah mengajar lama bukan?."
,"ooh,ya,ibu kenal,dia siswi yang cerdas penuh dedikasi,eh..mengapa
kamu menanyakan prita?."tanya miranti pula
,"hmm,begini Bu.ara sering merasa di buntuti dan di hantu makhluk
astral,bahkan pernah kesurupan,mungkin ini berkaitan dengan prita,
karena saya menemukan buku hariannya.
,"ucap Lia,di ikuti anggukan bu Miranti
,"ibu ngerti dan pesanku ra,kamu harus juga menguatkan hatimu,anggap
saja,jodoh kalian sudah berakhir sampai di sini agar makhluk gaib
tidak bisa meminjam ragamu!."
Ara mengangguk
,"bu..saya ingin mengetahui detil kematian prita dan kisah cinta
segitiganya?."tanya Lia
,"soal kisah cintanya,aku tidak tahu pasti karena dia meninggal saat ibu baru tiga hari bekerja di sini,sedang soal kematiannya..dia
meninggal malam hari karena menabrak pohon depan sekolah dengan
menggenggam sobekan buku hariannya.dia seperti ketakutan..sedang buku
hariannya yang lain di temukan depan kamar kecil paling
ujung,"jelasnya menerawang jauh mengingat kejadian masa itu.
,"kenapa malam malam dia ke sekolah bu?."tanya Ara penasaran
Bu Miranti hanya mengangkat tangannya.Tanda tidak mengetahuinya penyebabnya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar