Selasa, 27 Desember 2016
Malam Satu Suro
Malam Satu Suro Malam Yang Mistis? Atau Hanya Mitos Saja?
Selain malam jum’at yang menjadi sebuah mitos sebagai malam yang seram dan mistis, terdapat juga hari yang dijadikan sebagai hari yang seram yaitu malam 1 Suro. Yang mana Malam 1 Suro juga bertepatan dengan 1 Muharam atau sebagai tahun barunya orang muslim di Indonesia yang juga memiliki makna sedikit unik. Bagi golongan masyarakat Jawa meyakini, bahwa malam 1 Suro sangat identik dengan nuansa mistis.
Bagi mereka yang mempunyai senjata pusaka atau gaman akan di cuci pada malam 1 Suro ini. Orang Jawa biasanya menyebut hal tersebut dengan Penjamasan. Dalam melakukan penjamasan senjata pusaka seperti keris, tombak dan lainnya tidaklah sembarangan. Terdapat ritual khusus yang harus dilakukan sebelumnya seperti puasa, pati geni, sesaji, bakar menyan, tumpengan dan segala tetek bengeknya.
Mereka yang melakukan penjamasan meyakini dengan menjamas pada malam 1 Suro ini bakal membuat senjata pusaka mereka semakin bertambah kesaktiannya. Tak pelak, bagi masyarakat Jawa yang mempercayai ritual ini, malam 1 Suro menjadi sangat teramat penting. Karena dianggap dimensi gaib dan mistis di malam ini sangat kuat.
Bagi sebagian masayarakat Jawa juga menyakini bahwa Bulan Suro sebagai bulan penuh kesialan, itulah yang menyebabkan pada bulan tersebut ‘dilarang’ melakukan pesta khususnya pernikahan. Adapun jika terdapat mereka yang percaya itungan-itungan Primbon, tentu tidak akan menggelar pesta pernikahan di Bulan Suro.
Namun, berbeda dari segi pandang menurut Islam, bulan sial seperti bulan Suro tentu tidak ada. Semua hari adalah baik dan tidak ada waktu atau tanggal yang bisa membawa kesialan pada manusia. Munculnya kepercayaan tentang bulan Suro sebagai bulan sial, hal ini tidak lepas dari latar belakangi dari sejarah zaman kerajaan tempo dulu. Pada zaman dahulu di Bulan Suro sebagian keraton di Pulau Jawa mengadakan ritual memandikan pusaka keraton.
Ritual menjamas pusaka keraton pada zaman dahulu menjadi sebuah tradisi yang menyenangkan bagi masyarakat yang memang masih haus akan hiburan. Sehingga dengan kekuatan karisma keraton dibuatlah stigma tentang ‘angker’ bulan Suro. Jika di bulan Suro rakyat mengadakan hajatan khususnya pesta pernikahan, bisa mengakibatkan sepinya ritual yang diadakan keraton alias keraton kalah pamor.
Dampaknya akan mengurangi legitimasi dan kewibawaan keraton, yang pada saat itu merupakan sumber segala hukum. Tradisi memandikan keris dan pusaka ini juga menjadi ajang untuk memupuk kesetiaan rakyat kepada Keraton.
Mitos tentang keangkeran bulan Suro ini demikian kuat dihembuskan, agar rakyat percaya dan tidak mengadakan kegiatan yang bisa menganggu acara keraton. Dan hingga kini kepercayaan tersebut masih demikian kuat dipegang oleh sebagian orang. Sehingga ada sekelompok orang yang pada bulan Suro tidak berani mengadakan acara tertentu karena dianggap bisa membawa sial.
Namun bagaimana pun juga kepercayaan akan malam 1 Suro dan Bulan Suro masih mengakar kuat. Segala ritual yang dilakukan di malam 1 Suro seolah menjadi tradisi unik yang dimiliki dan dipercayai masyarakat Jawa yang kaya budaya adiluhung.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar