Sabtu, 31 Desember 2016

10 Film Adaptasi Video Game Terbaik

10 Film Adaptasi Video Game Terbaik Sepanjang Masa Siapa yang tidak suka bermain video game ? Bukan hanya anak kecil saja yang suka bermain jenis permainan elektronik ini, bahkan orang dewasa pun banyak yang tergila-gila dengan berbagai jenis dari video game ini. Apalagi di era teknologi modern seperti sekarang ini, video game sudah bisa dimainkan dimana saja dan kapan saja lewat media smartphone . Perangkat video game berkembang sangat pesat dalam kurun waktu hampir 45 tahun sejak kemunculan Atari di tahun 1972 lewat game legendarisnya, Pong. Sejak saat itu video game mulai dikomersilkan dan banyak perusahaan elektronik berlomba membuat perangkat video game sendiri. Kemudian bermunculanlah Nintendo, SEGA, PlayStation, XBox, dan lain-lainnya. Ditambah lagi dengan Arcade Game, yang di Indonesia lebih dikenal dengan “ding-dong”. Serta kemajuan teknologi komputer menghadirkan PC game . Dengan jaringan internet, muncul juga online game . Dengan banyaknya perangkat video game saat ini, perusahaan game berlomba-lomba membuat game yang menarik untuk dimainkan. Yang paling banyak mendapat sambutan adalah game berjenis action-adventure . Dengan kisah yang menarik, seringkali menuntut gamers untuk berpikir keras, gameplay yang semakin realistis dalam pergerakannya dan tentu saja grafis yang ciamik yang mampu memanjakan mata para gamers sejati. Hollywood melihat peluang dari maraknya video game di dunia dengan mengadaptasi beberapa game tersebut ke dalam film layar lebar. Elemen-elemen yang ada di dalam game -nya, sebisa mungkin dihadirkan kembali di film sehingga kesan realistis tersebut semakin nyata. Rata-rata, film dari adaptasi video game ini berhasil menarik minat penonton dan berada di jajaran box-office AS, meski terkadang kualitasnya masih di bawah rata-rata. Sehingga belum ada film jenis ini yang masuk nominasi Oscar. Berikut ini kami pilihkan 10 film adaptasi video game terbaik yang pernah diproduksi oleh Hollywood. Mortal Kombat [1995] Liu Kang, Johnny Cage, Sonya Blade dan Lord Raiden adalah nama-nama terkenal di dunia arcade game . Karakter-karakter ini angkat nama lewat game Mortal Kombat yang kemudian menjadi populer di kalangan pencinta fighting game . Film adaptasinya mengambil kisah dan elemen dari versi pertama game -nya dan sedikit elemen dari seri keduanya. Film yang dibintangi oleh Christopher Lambert ini banyak menuai pujian dari kritikus film dan fans setianya karena adegan silat yang baik, atmosfir film yang nyaris sama dengan versi game -nya dan lokasi-lokasi yang eksotis antara lain di Los Angeles dan Thailand. Tetapi sayangnya, naskah yang terlalu biasa menjadi nilai minus film yang kemudian diikuti oleh sequel -nya, Mortal Kombat: Annihilation (1997) yang mendapat banyak kritikan pedas. Sebaiknya kita minta Sub-Zero untuk berkata: “Finish Him!!” Final Fantasy: The Spirits Within [2001] Hironobu Sakaguchi adalah kreator dari game berjenis role-playing ini. Kepopuleran game yang hadir di perangkat Playstation ini telah menghadirkan beberapa seri yang semuanya sangat digandrungi oleh para gamers . Bersama Hollywood, Jepang memproduksi film ini yang biayanya membengkak hingga lebih dari $100 juta. Sebagian besar dana tersebut digunakan untuk proses rendering animasi fotorealistik yang di masa itu membutuhkan peralatan dan tenaga kerja yang banyak. Hasilnya memang tidak mengecewakan secara kualitas. Para kritikus film dan gamers pun mengakuinya. Tetapi pendapatan film adaptasi video game terbaik ini sangat mengecewakan sehingga tidak bisa meraup keuntungan dan membuat perusahaan Square Pictures, sebagai rumah produksinya, bangkrut. Lara Croft: Tomb Raider [2001] Angelina Jolie memang adalah aktris yang pantas memerankan karakter Lara Croft dari game Tomb Raider produksi Square Enix ini. Kemiripan fisiknya adalah nilai terpenting yang mampu memukau para gamers dan penonton umum. Film ini menampilkan petualangan Lara Croft dalam memburu artifak kuno yang juga diperebutkan oleh saingannya, The Illuminati. Meski termasuk salah satu film dengan pendapatan terbaik, film karya sutradara Simon West ini lumayan mendapatkan serangan negatif dari para kritikus film. Lara Croft Tomb Raider: The Cradle of Life (2003) berusaha menjawab kritikan itu dengan menghadirkan adegan action yang lebih baik. Tetapi dengan pendapatan yang lebih buruk dari film pertamanya, membuat franchise ini terpaksa dihentikan. Jika film ini akan dibuat kembali, menurut kalian, siapakah aktris yang pantas menjadi Lara Croft berikutnya? Resident Evil [2002] Merupakan adaptasi video game terkenal produksi Capcom yang di Asia lebih dikenal dengan judul Biohazard. Film ini dibintangi oleh Milla Jovovich dan disutradarai oleh Paul W.S. Anderson. Mengambil setting dan elemen dari game Resident Evil dan Resident Evil 2 , film ini disambut cukup hangat oleh para gamers yang cukup puas dengan terjemahan visualisasinya yang mendekati nuansa game -nya sendiri. Karena kesuksesan petualangan pertama Alice dalam melawan sekelompok zombie ganas karena virus ini, dibuatlah beberapa sequel -nya. Resident Evil: Apocalypse (2004) yang mengambil cerita dari Resident Evil 3: Nemesis dan Code: Veronica , menampilkan karakter tambahan seperti Jill Valentine dan Carlos Olivera, yang harus melarikan diri dari Raccoon City sebelum sebuah misil akan menghancurkan kota itu. Resident Evil: Extinction (2007) melanjutkan kisah kelompok survivor ini yang akan menyeberangi gurun Mojave menuju Alaska yang dianggap sebagai tempat teraman. Resident Evil: Afterlife (2010) melanjutkan petualangan Alice dalam menghancurkan Umbrella Corporation yang dianggapnya bertanggung jawab atas merebaknya virus mematikan ini. Resident Evil: Retribution (2012) mengisahkan petualangan Alice untuk berusaha melarikan diri dari fasilitas rahasia milik Umbrella Corporation. Kelima film ini meraup keuntungan berlipat dari peredarannya di bisokop-bioskop di seluruh dunia, juga termasuk penjualan home video -nya. Sehingga tidak heran jika kualitasnya banyak dicibir oleh kritikus film, selama masih banyak peminat, film ini akan terus dibuat. Di tahun 2017, akan hadir Resident Evil: The Final Chapter, yang direncanakan sebagai akhir dari kisah petualangan Alice di dunia zombie. Doom [2005] Bagi penyuka game dengan jenis first-person shooter , Doom produksi id Software adalah salah satu yang terbaik. Hak cipta filmnya sendiri sempat berpindah-pindah karena kegagalan tenggat waktu produksi dengan kontraknya. Setelah dirilis, film ini disambut cukup baik oleh fans setianya yang memuji salah satu adegan, yaitu first-person shooter yang diambil dari perspektif karakter yang diperankan oleh Dwayne Johnson, yang tampil tepat seperti dalam versi game -nya. Tetapi secara keseluruhan, film ini bisa dibilang gagal total. Oleh karenanya, sesumbar produsernya yang akan membuat film sequel -nya terpaksa bungkam. Silent Hill [2006] Salah satu video game bergenre horror terbaik ini memang pantas di adaptasi ke dalam film. Sutradara Christophe Gans adalah salah satu fans berat dari games ini. Oleh karenanya, dia mencurahkan seluruh kemampuannya untuk mendapatkan hak cipta dari Konami agar bisa dijadikan sebuah film. Hasilnya, film adaptasi video game terbaik ini sangat mencekam, apalagi dengan atmosfir hening yang sama dengan versi game -nya, membuat kita terasa masuk ke dalam cerita dan kota yang hilang itu. Sayangnya, Silent Hill: Revelation (2012) tidak bisa mengulangi kesuksesan yang sama dan banyak mendapat caci-maki dari kritikus film dan para gamers. Hitman [2007] Hitman adalah game action populer yang diproduksi oleh Square Enix, sebelumnya oleh Eidos Interactive. Cerita yang penuh dengan misteri di dalam game -nya, coba untuk di terjemahkan ke layar lebar lewat karakter Agent 47 yang diperankan oleh Timothy Olyphant. Film yang dipenuhi dengan adegan action yang cukup baik dan setting di benua Eropa yang eksotis ini sayangnya tidak di apresiasi dengan baik oleh para kritikus film, meski berhasil meraih keuntungan yang lebih dari cukup. Hal ini membuat produksi film sequel -nya dihentikan di tengah jalan. Di tahun 2015, dimunculkan reboot dari film ini, yaitu Hitman: Agent 47 yang menghadirkan adegan action yang lebih baik dengan gerakan kamera yang dinamis. Lagi-lagi, kritikus film mencibir film ini sehingga membuat masa depan franchise ini menjadi buram. Max Payne [2008] Video game produksi Rockstar Games ini cukup popular karena keseruan kisah petualangan action Max Payne dalam memburu organisasi pembunuh seluruh anggota keluarganya. Nuansa gelap dan penuh kesuraman yang semakin kelam dengan beberapa adegan mimpi yang sebnarnya cukup susah untuk dimainkan, semakin menambah keasyikan memainkan game ini. Apalagi ketika kita menggunakan slow-motion yang hadir seperti adegan bullet time ala The Matrix . Elemen-elemen itu coba dihadirkan kembali lewat adapatasi filmnya yang memasang Mark Wahlberg sebagai sosok Max Payne. Karena menampilkan cerita yang sangat jauh berbeda dengan versi game -nya, film ini mengundang cibiran dari para gamers, sehingga mendapat rating yang cukup buruk di berbagai situs film internasional. Prince of Persia: The Sands of Time [2010] Jake Gyllenhaal berperan sebagai Prince Dastan, tokoh utama dari game yang berjudul sama ini. Kepopuleran game ini dikarenakan kisah yang menarik dan gameplay yang cukup unik, dimana jika gamers menggunakan “pasir waktu” ini, gerakan musuh menjadi lambat dalam bentuk slow-motion . Elemen ini dihadirkan kembali dalam versi film dengan sangat baik. Selain Gyllenhaal, hadir pula Gemma Arterton sebagai Princess Tamina dan dua aktor senior, Ben Kingsley sebagai Nizam dan Alfred Molina sebagai Sheik Amar. Kesetiaan film ini dengan versi game -nya banyak mengundang pujian dari para gamers. Need for Speed [2014] Para gamers sejati pasti pernah dan menyukai salah satu dari serial game balapan mobil ini. Need for Speed: Undergorund adalah salah satu seri terbaiknya. Film adaptasi video game terbaik ini mencoba menerjemahkan berbagai macam adegan balapan di game produksi Electronic Arts ini ke dalam layar lebar. Tampilan balapan di jalan raya dan di pegunungan sangat baik dan mendebarkan, apalagi jika kita menonton dalam format 3D. Sayangnya, cerita yang digulirkan cenderung klise, sehingga menjadi membosankan. Membuat film dari adaptasi video game memang sulit, terutama untuk memenuhi harapan para fans setia dari game itu sendiri. Terbukti dengan banyaknya film adaptasi yang diproduksi, hanya segelintir saja yang cukup baik kualitasnya, meski sebagian besar berhasil meraih keuntungan berlipat. Harapan kita sebagai moviegoers , sebaiknya produser dan sineas film berusaha untuk lebih serius lagi dalam menggarap film-film jenis ini, jangan hanya menerjemahkan apa yang sudah ada dalam versi game -nya, tetapi akan lebih baik lagi jika memiliki alur cerita yang baik juga. Kita tunggu saja adapatasi film Assassin’s Creed dan Warcraft. Semoga bisa menjadi pemicu peningkatan kualitas dari film adaptasi video game ini untuk kedepannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar