WARUNG GAIB bag 1(Ayuningrum).
Emang masa sekolah itu menyenangkan sekaligus bikin boring kalau jam
pelajaran di tambah karena ada pelajaran malam,Jam delapan sampai sepuluh
malam di bulan Muharram..Malam jum'at kliwon.namanya Renungan Takwa..ya
membahas seputar agama sih..dan kalau pembicaranya pas pak Irwan
jluntrungnya ya sejarah yaitu sejarah Wali Songo.
,"na..ara mana?."kok nggak kelihatan batang hidungnya?."tanya Lia
,"ya di bawa badannya,"jawab Ana ogah ogahan.
.dia bener bener udah boring tapi pak Irwan masih ngoceh kayak beonya pak
Markum yang kalau Ana lewat selalu bilang warna
,"merah,hijau,kuning,sangkar sangkarnya!."bikin Ana pengin ngemut itu
burung sampai hilang seperti permen Pindy Mint yang dingin dingin
empuk,habis burung kok piktor alias pikiran kotor.
,"ara mana sih!."tadi ikut bu arini kok sekarang nggak muncul
muncul!."cerocos Lia memandang Ken yang asyik mendengarkan.
ya harus di akui Ken anak yang rajin..paling rajin dan paling pintar
diantara mereka.Ara lumayan tapi nggak pintar amat sih..,Lia sedang sedang
saja tapi pandai berkelahi..di antara keempat cewek ini Lia yang paling
kuat..kalau Ana..dipastikan yang paling tulalit tapi di pastikan juga yang
paling cakep.
Sementara di luar sana bawah pohon mangga..Ara lagi ngobrol sama
seseorang,siapa lagi kalau bukan Rana Purbaya..
,"rana..boleh aku nanya sekali lagi,kenapa beberapa makhluk gaib
memanggilmu seakan akan kau seorang penguasa dunia gaib?."Rana tertawa keras
,"ara..kau tahu apa sebutan seorang sinyo Belanda pemilik perkebunan?."
,"tuan muda,"
,"di zaman belanda..tuan muda sama pangeran atau raden itu kedudukannya
sama..kami feodal dari negeri asing sedang raden feodal pribumi..jadi
beberapa pribumi kadang memanggil sinyo macam aku..paduka raja muda karena
tuan muda."Ara manggut manggut
,"benar juga kamu!."lalu di mana rumahmu dulu rana?."
,"ya di sekitar sini,papiku adalah pemilik perkebunan teh dan kopi,"suatu
saat aku akan mengajakmu ke rumahku..aku janji..aku akan bawa kau ke sana
lewat kenanganku,"mendengar ini Ara tersenyum manis sekali.
Pak Irwan sudah keluar ruangan..anak anak di suruh istirahat sambil
mencatat dan sepuluh menit lagi dia datang buat membubarkan kelas.
Ara asyik mencatat buku Lia, datang Ana sambil cengar cengir
,"teman teman ayo kita kabur..pak irwan lagi main pacar pacaran!."seru
Ana,membuat Lia matanya langsung berbinar binar..menghampiri Ana sambil
membawa tasnya..Ara ingin mencegah kedua sahabatnya tapi akhirnya mengalah
ikut mereka berdua..mengendap ngendap dari pohon ke pohon karena pak Irwan
sama bu Arini ada di kursi taman halaman depan sekolah..
Rasanya benar benar freedom saat mereka keluar dari halaman sekolah.Agar
tidak ketahuan..mereka memutuskan berjalan dulu ke bawah,karena mereka akan
menumpang angkutan pedesaan dekat pohon beringin samping persawahan bawah
sekolah SMU.
Mereka sampai di pohon beringin..tapi ada aneh sama itu pohon beringin..tuh
pohon beringin bergoyang goyang dahannya padahal pohon asem di sekitarnya
diam mematung.
,"ra..tuh kenapa beringin bergoyang,lainnya diam aja masak anginnya pilih
kasih sih?,"tanya Lia
,"jangan jangan kita kualat sama pak irwan ningalin pergi tanpa pesan,"duh
aduh..Ana mulai mewek nihye!."
,"kualat..emang kita malin kundang na..,"
,"udah..jangan paranoid dulu ya na..siapa tahu ada kucing di sana,"ucap Ara
mendekati pohon beringin.
.ternyata ada seorang cewek cantik di sana berpakaian hijau dia memakai
mahkota yang aneh
,"siapa kau?."tanya Ara membuat kedua sahabatnya ketakutan dan berlindung
di belakang badan Ara,menatap wajah cantik di atas pohon beringin
,"namaku ken amiati..aku selir raja harimau yang menjaga warung gaib
dilereng gunung wilis..aku menyampaikan pesan rajaku bahwa kalian bisa
berbelanja aksesoris gaib yang akan menambah aura kecantikan kalian..jika
kalian terima undangan naiklah ke pohon beringin ini,"ucapnya setelah itu
dia mengambil mahkota emasnya yang berada di kepalanya berbentuk aneh kayak
atap rumah limas.
salah satu ujung lancip mahkota emas di torehkan di batang pohon
beringin,mulai dari bagian akar terus ke atas sampai ke ujung batang
yangada cabang serta dedaunan.
,"Rrrrttt!."torehan ujung mahkota emas membuat batang pohon beringin
terbelah menjadi dua.
Ken Amiati berdiri di atas salah satu belahan batang,sambil meletakkan
mahkota emas kembali ke atas kepalanya dia berkata
,"petiklah daun beringin,aksesoris gaib ini bisa di beli dari daun beringin
itu!,"aku akan kembali ke negeriku,
belahan batang pohon beringin ini aku tinggalkan mengambang di sini.
Waktu kalian hanya sampai matahari terbit.jika kalian berniat,naiklah ke
atas belahan batang pohon beringin ini,dalam sekejap batang itu akan
membawamu ke warung gaib..pelayan warung sudah menunggu di sana,"
Bagian akar dan cabang,ranting serta dedaunan belahan pohon beringin dimana
Ken Amiati berdiri bergetar mengeluarkan suara angin berkesiuran,membuat
daun daun pohon disekitar tempat itu bergoyang goyang dan debu berterbangan
ke udara.
Ken Amiati lambaikan tangan.
,"sang selir!."tunggu!."Ara berteriak
,"jangan banyak pertimbangan..ini kesempatan kalian menjadi cantik dan
berwibawa,"nasehat sang selir.
begitu selesai berucap,belahan batang pohon beringin di mana sang selir
berdiri bergerak.
Wusss!."Batang pohon bersama Ken melesat ke langit.Dalam sekejapan saja
kemudian lenyap dari pemandangan.
,"bagaimana ini!."Lia berseru.
sementara Ara menatap ke arah belahan batang pohon beringin yang mengambang
di udara.
,"kita sahabat..jika ara mutusin naik aku ikut,bagaimana kamu an?."Ana
mengangguk,Ara menoleh kepada kedua sahabatnya,Dia melompat,dalamsekejap
kini dia sudah berdiri di ujung belahan batang pohon beringin sambil
memegang erat erat satu cabang.Dedaunan dan akar pohon bergetar,mulai
mengeluarkan suara bersiur.
Lia memegang tangan Ana,bersama sama melompat ke arah belahan batang pohon
beringin.belum selang berapa lama,ketiganya melayang di udara,di langit
banyak bintang bintang,di antara sang purnama yang tampak bulat besar dan
kuningkeemasan,belahan pohon beringin membawa mereka terbang ke arah
timur.sambil memegang kuat kuat salah satu cabang pohon beringin Ara yang
berdiri paling ujung berkata perlahan di bawah deru angin.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar