Mawar Putih Dari Rangga bag 1.
Hujan telah usai membasahi tanah,pohon pohon yang beberapa hari ini mulai
layu kini mendapat energi lagi,hijau kembali,aku memandang semuaitu dari
jendela ruang kerjaku,airmataku membasahi kedua pipiku,teringat kemarin
saat kedatangan pasien dari kota yang didiagnosa terkena kanker
otak,hidupnya sudah tidak lama lagi,kini pria ini berada dalam
perawatanku.mataku menerawang jauh,aku membayangkan kejadian tujuh tahun
lalu,saat pria itu memintaku memutuskan pertunangan karena diriku bukan
yang diacintai,ini semua karena kehendak orang tuanya,dulu dia masih
bisakompromi tapi kini tidak lagi karena dia telah jatuh cinta pada
Sintia,gadis paling ganjen di SMA ku,dengan linangan airmata,aku terpaksa
menyetujuinya.
,"kak rangga,andai kau tahu hancurnya hatiku waktu itu karena benar benar
mencintaimu,"ucapku sendu.ku coba menepis perasaan itu karena aku kini
telah memiliki sandaran hati,Dimas Prayoga,seorang dokter muda yang
bertugas di pedalaman Riau,akan kembali ke Pekanbaru dua bulan lagi.
,"aku harus memperlakukan kak rangga seperti pasien lain,persetan dengan
masa lalu kami,"
aku memasuki kamar kak Rangga,dia berdiri di dekat jendela,aku berdehem,dia
berbalik,mata kami saling berpandangan.
,"cinta hapsari,"panggilnya lembut.
aku tidak segera menjawab,hanya memandangnya,dia terlihat tampan khas pria
Bali karena kak Rangga keturunan bali tapi berwajah pucat
,"panggil aku dokter cinta,"ucapku ketus dia memandangku sebentar,terlihat
luka di matanya
,"maafkan aku dok,"ucapnya lirih setelah itu,aku melaksanakan tugasku,kami
sama sama diam.
aku bernyanyi riang menuju ruang kerjaku,di mejaku ada setangkai mawar
putih,aku mengambilnya,mataku terasa panas saat tahu siapa pengirimnya,buru
buru mencari orangnya,dia sedang menikmati udara pagi
,"kak rangga,apa maksudmu!,"teriakku marah,melempar mawar putih itu
ketanah,dia tersenyum lalu memungutnya.,"dok,sampai aku mati,setiap hari
aku akan mengirimkan setangkai mawar putih untukmu,"ucapnya sendu
hatiku terpengaruh,mataku berkaca kaca,aku melangkahkan kakiku meninggalkan
tempat itu.setiap hari sejak peristiwa itu,aku menerima setangkai
mawarputih,lalu ku taruh di bawah meja,tidak ada gunanya berdebat dengan
orang yang segera di hampiri maut.
Malam mulai datang,aku mengendarai mobilku,melewati hutan ini,berdoa agar
si pengidap penyakit jiwa yang selalu menggodaku itu tidak muncul tapi apa
yang kutakutkan terjadi,dia tiba tiba muncul di depanku.rasanya aku ingin
menabraknya,tapi karena menyadari itu tidak baik,aku turun untuk membujuknya
,"ayo mas bandi,jangan halangi jalanku,"ucapku lembut dia hanya
tertawa,menodongkan senapan ke arahku
,"diam,ikuti perintahku,atau senapan ini akan mengenai pelipismu!,"
aku memandangnya tidak percaya kalau senapannya asli,tapi dia menarik
pelatuknya dan menembak seekor burung di dahan pohon yang langsung jatuh
dengan perut tertembus peluru
0,"sial,jangan jangan ini orang gila mantan tentara!,"makiku dalam
hati,terpaksa mengikutinya,kami melewati pinggiran sungai,sampai di sebuah
rumah kayu beratap alang alang,dia membawaku ke salah satu pojok
ruangan.aku menjerit,dia segera menyumpal mulutku dengan kain
,"cah ayu,diam sebentar di situ,aku cari makanan dulu untukmu,"ucapnya,lalu
tertawa keras khas orang gila,membuatku bergidik ngeri.Bulan menggantung di
langit malam,aku baru saja bersantap dengan ubi jalar bakar,memandang pintu
dengan linangan airmata.
,"ya tuhan,tolonglah aku kak dimas,di mana kamu!,"jeritku dalam hati,tanpa
ku minta bayangan kak Rangga terlintas di pelupuk mataku.tak berapa
lama,pintu rumah terbuka,sesosok wajah muncul,dia memberi isyarat padaku
agar diam, mengendap ngendap menuju ke tempatku disekap membuka
ikatan,sumpal mulutku.kami dengan hati hati berjalan meninggalkan gubuk itu
sebelum Bandi yang tertidur bangun.kak Rangga menyuruhku naik montor yang
dia bawa
,"kak rangga,kita ke tempat mobilku,"ucapku lembut
,"mobilmu sudah hilang,karena itu orang orang kehilangan jejakmu,untung aku
bisa menemukan sapu tanganmu,masih sama ya bu dokter seperti waktu masih
SMA,"aku tersenyum mendengarnya,bahagia dia mengingatku.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar