Senin, 02 Januari 2017

Koordinasi Cetak Sawah Baru

PEMERINTAH PERLU KOORDINASI LINTAS SEKTORAL UNTUK PENCETAKAN SAWAH BARU Tren impor beras yang naik dari tahun ke tahun membuktikan kegagalan Pemerintah meningkatkan ketahanan pangan Indonesia. Diperlukan koordinasi lintas departemen terkait untuk melakukan pencetakan sawah baru sehingga bisa menggenjot produksi beras yang dihasilkan petani dalam negeri. “Ini kegagalan Pemerintah kita, karena impor beras kita makin lama bukannya berkurang tapi justru meningkat. Pemerintah kurang tanggap untuk pencetakan lahan lebih maksimal,” ujar Ketua Bidang Energi dan Sumber Daya Alama (SDA) Partai Persatuan Indonesia (Perindo) Carol Daniel Kadang, ketika dihubungi di Jakarta. Carol mengungkapkan, lahan areal sawah di Indonesia banyak yang dialihfungsikankan untuk kebutuhan lain. Diperparah kurangnya keberpihakan kepada petani untuk meningkatkan kualitas dan produksi lahan yang ada. “Jadi dengan koordinasi lintas sektoral alih fungsi areal sawah untuk hal lain bisa dicegah. Sekaligus komitmen lintas kementerian untuk meningkatkan pencetakan lahan baru lebih banyak lagi bisa diwujudkan,” tambahnya. Pencetakan lahan sawah ini, lanjut Carol, setidaknya harus mendapat dukungan dan komitmen penuh Kementerian Pertanian, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat dan Kementerian Agraria dan Tata ruang. “Jika kita tidak fokus pada hal ini, jelas mengancam ketahanan pangan Indonesia. Sementara penduduk kita terus bertambah,” pungkas Carol. Badan Pusat Statistik (BPS) telah mencatat terjadi lonjakan impor beras di Indonesia. Beberapa tahun terakhir negara harus mengimpor beras sebanyak 472. 664, 6 ton (2013), 844.163, 7 ton (2014) dan 861. 601 ton (2015). Bahkan sampai tahun Oktober 2016, sebanyak 1.163.512,1 ton beras telah masuk ke pasar lokal. Sementara negara asal impor beras terbanyak berturut-turut dipegang oleh Vietnam, Thailand, Pakistan, India, Myanmar dan negara lainnnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar