Wow! Prasasti Asal Kerajaan Mataram Ini Mengandung Kalimat yang Masih Menjadi Misteri Hingga Sekarang.
Sebuah batu dari zaman kerajaan Mataram kuno diketahui terus menjadi misteri hingga saat ini. Tanda tanya dan misteri tersebut muncul dari adanya tulisan yang hingga saat ini tidak pernah bisa dipahami maksud dan tujuannya.
Adalah “Watu Gilang” atau Batu Gilang konon dipercaya masyarakat Yogyakarta, sebagai singgasana Panembahan Senopati, sultan pertama pendiri Kasultanan Mataram. Namun beberapa pendapat justru menyatakan Watu Gilang hanyalah sebuah “umpak” atau landasan singgasana Panembahan Senapati yang sebenarnya.
Watu sendiri Gilang saat ini terletak di komplek kraton lama Kotagede, ibukota Kasultanan Mataram waktu itu. Watu Gilang terletak kurang lebih 300 m selatan pasar Kotagede. Watu Gilang merupakan batu hitam berbentuk persegi, berukuran 2 m di setiap sisinya, tingginya 30 cm dan terletak di sebuah ruangan yang sengaja dibuat untuk untuk melindungi batu ini.
Dilansir dari Jogjamagazine, batu ini hingga sekarang masih menjadi misteri maksud dan tujuannya, karena hingga sekarang belum ada pendapat pasti yang bisa menjelaskan secara detail mengenai Watu Gilang.
Kisah Watu Gilang yang selalu dikaitkan dengan kisah pembunuhan paling terkenal dalam sejarah Mataram, yakni pembunuhan Ki Ageng Mangir Wanabaya, pun menyimpan misteri lain yang tidak juga terjawab.
Terdapat tulisan-tulisan aneh (kini mulai terlihat tidak jelas secara kasat mata) terpahat di permukaan Watu Gilang, yang hingga kini tidak juga dapat dipecahkan oleh para arkeolog mengenai siapakah yang menatah bahasa latin, bahasa Prancis, bahasa Italia, dan bahasa bahasa Belanda serta untuk tujuan apa kata-kata itu ditatah.
Pada Watu Gilang terdapat tatahan berupa kalimat dalam bahasa Latin yang ditulis membentuk kotak bangun kotak yang berbunyi
“IN FORTUNA CONSURTES DIGNI VALETE, QUID STUPEARIS AINSI, VIDETE IGNARI ET RIDETE, CONTEMITE VOS CONSTEMTU VERE DIGNI“,
yang kurang lebih berarti “dalam keberuntungan yang tak diraih, kalian meninggalkan banyak hal yang seharusnya diselesaikan, tidak semudah itu, tapi di sini ada hal kebaikan baru karena masalah yang tidak terselesaikan akan menjadi sebuah kebodohan”.
Kalimat membentuk bangun kotak ini mengurung kalimat lain yang ditatah melingkar dan disusun dalam 4 bahasa, yaitu
“ITA MOVETUR MUNDUS” (Bahasa Latin), “AINSI VALE MONDE” (Bahasa Perancis), “ZOOGAAT DE WELERD” (Bahasa belanda) dan “COSI VAN IL MONDE” (Bahasa italia). Empat bahasa ini memiliki arti yang hampir sama,
yakni “demikianlah perubahan dunia”.
Kalimat dalam 4 bahasa yang ditulis melingkar tersebut, mengurung sebuah kalimat dalam bahasa Latin yang berbunyi:
“AD AETERNAM MEMORIAM SORTIS INFELICIS” yang kurang lebih berarti “untuk memperingati nasib yang kurang baik”, serta tulisan “IGM”, kemungkinan singkatan dari kalimat “IN GLORIAL MAXIMAM” yang mengandung arti ‘untuk keluhuran yang tertinggi’.
Tidak diketahui asal muasal mengapa tulisan tersebut ditatah di singgasana Sultan. Hal ini juga menjadi pertanyaan, mengapa terdapat orang yang mampu berbahasa latin, Prancis, Italia, dalam tubuh Kasultanan Mataram.
Selain itu juga tidak diketahui untuk tujuan apa kalimat bernada sedih itu ditatah di sebuah Singgasana Sultan Mataram.
Ataukah hal itu hanyalah ulah iseng dari seseorang yang dahulu menemukan Watu Gilang sebelum batu berbentuk kotak itu dianggap sebagai peninggalan berharga dari sebuah Kerajaan Islam terbesar di tanah Jawa?
Terdapat beberapa spekulasi kisah yang beredar dan berusaha menjelaskan mengenai tulisan tersebut, yang tentunya tidak bisa di jamin kebenarannya.
Salah satunya adalah kisah kedatangan orang-orang Portugis pimpinan Cornelis de la Vonte, yang konon diselamatkan Panembahan Senapati saat kapal yang ditumpangi karam di laut selatan Jawa akibat badai. Konon menurut cerita, orang-orang Portugis itu dibawa ke ibukota Kotagede dan diperlakukan baik layaknya tamu.
Saat memutuskan untuk pulang ke negeri asalnya, orang-orang Portugis ini pun memberikan pesan kepada Panembahan Senapati sebagai wujud rasa terima kasih. Pesan tersebut di tatah di Watu Gilang, seperti yang akhirnya terlihat.
Selain cerita tentang kedatangan orang-orang Portugis, terdapat pula cerita mengenai kesedihan yang teramat besar dari Nyi Pembayun, putri Panembahan Senapati, yang diperistri ki Ageng Mangir Wanabaya, saat Ki Ageng Mangir terbunuh di Mataram.
Namun berbagai kisah diatas hanyalah prediksi ataupun dongeng yang belum bisa dipastikan keabsahannya. Dan, hingga saat ini Watu Gilang masih meninggalkan misteri yang menunggu untuk dikuak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar