Gerindra Teratas, Perindo Sukses Curi Perhatian di Media Sosial
JAKARTA- Institute for TransformationStudies (Intrans) melakukan riset
untuk mengetahui pengaruh partai politik di media sosial (medsos).Riset
dilakukan dengan melihat followers(pengikut) media sosial 12 partai politik
(parpol) yang terdiri atas Golkar, Gerindra, Nasdem, Demokrat, PPP, PKB,
PDIP, PKS dan PKPI, serta dua partai politik baru, yakni PSI dan
Perindo.Riset dilaksanakan pada 1 Februari hingga 14 Maret 2016. Adapun
media sosial yang diteliti, yakni Twitter, Facebook, Instagram, Google+,
dan Youtube."Berdasarkan social audience, Partai Gerindra mengatasi partai
politik yang lainnya. Gerindra berhasil meraup pengikut sebesar 3,8 juta
pengikut," kata Direktur Intrans, Andi Saiful Haq di Jalan Veteran, Jakarta
Pusat, Rabu (30/3/2016).Partai politik kedua dengan followers terbanyak di
media sosial adalah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Partai
ini diikuti 1,6 juta orang. Sebagai pendatang baru, Partai Solidaritas
Indonesia (PSI) pimpinan Grace Natalie menyusul di urutan ketiga.Partai
Persatuan Indonesia (Perindo) yang dipimpin Hary Tanoesoedibjo (HT) juga
mencuri perhatian followers di media sosial. "PSI dan Perindo sebagai
partai baru ternyata mendapat apresiasi cukup positif. PSI mempunyai 1,1
juta pengikut dan Perindo 48 ribu pengikut," kata Andi.Di tengah tingginya
popularitas partai-partai baru di media sosial, pamor partai-partai lama
justru menurun. Misalnya, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) hanya mendapat 13
ribu pengikut dan Partai Amanat Nasional (PAN) memiliki lebih sedikit
pengikut dari PKB.Andi mengatakan, media sosial menjadi saluran komunikasi
baru yang efektif digunakan partai politik untuk berinteraksi dengan
pengikutnya di internet. Menurut dia, tidak mudah memanfaatkan media sosial
untuk mencapai tujuan partai politik.Bahkan, tidak semua partai politik
mampu beradaptasi dengan cepat dalam memanfaatkan teknologi informasi ini.
"Tidak banyak partai tentu yang bisa cepat menyesuaikan diri dengan
tuntutan ini, karakter feodal dan tidak transparan masih kuat melekat dalam
persepsi publik," tutur Andi.Secara kuantitatif, riset ini juga mengukur
model kampanye partai politik di media sosial. Sementara secara kualitatif,
riset ini menganalisa konten, platform, pesan danimpactdari kampanye partai
politik di media sosial.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar